Kirab Resolusi Jihad, Membangkitkan Kembali Ruh Perjuangan UlamaPertempuran 10 November di Surabaya, yang dikenal sebagai hari Pahlawan tak bisa dilepaskan dari adanya Resolusi Jihad, yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari, sehingga membuat para ulama menggerakkan santri dan pengikutnya untuk bersatu melawan penjajah.
Sayangnya, peranan Resolusi Jihad tersebut kurang mendapat apresiasi, bahkan cenderung dilupakan oleh pemerintah dan publik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengingatkan kembali makna Resolusi Jihad adalah dengan menggelar Kirab Resolusi Jihad dari Surabaya ke Jakarta pada 20-25 November 2011. Acara ini melibatkan Keluarga Besar NU, yang meliputi berbagai badan otonom NU, dan kelompok kultural NU.
Apa latar belakang dan target yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan acara, yang baru pertama kali ini dilakukan, berikut wawancara Mukafi Niam dengan Imam Nahrawi, ketua pelaksana nasional Kirab Resolusi Jihad, seusai softlaunching, pada Kamis 10 November di gedung PBNU.
Latar belakang penyelenggaraan Kirab Resolusi Jihad
Beberapa waktu lalu Pak Muhaimin Iskandar ketemu dengan Habib Lutfi bin Yahya. Dalam kesempatan tersebut, Habib Lutfy menyampaikan keprihatinan semakin dilupakannya merah putih dan peran besar NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya beliau minta tolong lakukan semacam kirab, untuk mengembalikan semangat ke-NU-an, dari Surabaya ke Jakarta.
Kebetulan Surabaya adalah tempat terjadinya pertempuran 10 November yang menjadi hari Pahlawan. Surabaya tempat dibacakannya Resolusi Jihad dan diikrarkan sedemikian rupa oleh para ulama yang mendorong semangat pejuang untuk melawan penjajah.
Kedua, kita ingin ke-NU-an tidak hanya dimiliki oleh warga NU, tetapi juga oleh warga bangsa karena peran sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari dorongan dan dukungan dari semangat para kiai NU. Ini didirikan oleh NU. Ini harus dibuka, meskipun dalam mata pelajaran kita tidak pernah disebut Resolusi Jihad, tetapi harus dan wajib disebutkan peranan NU luar biasa besar, meskipun bangsa ini, pemerintah tidak pernah menuliskan itu dalam rangkaian sejarah, tetapi semangat warga NU tidak pernah pudar, tak pernah kecewa dan membangkang perintah yang sah.
Acara ini akan kita live dalam beberapa media secara nasional dan akan kita beritahu bahwa NU adalah penopang utama dari kokohnya NKRI.
Kok bentuknya kirab, kenapa?
Ibarat orang ingin taaruf, maka dia harus silaturrahmi, keliling, maka dengan motivasi ini, kita harap satu per satu warga bangsa yang dilalui, menjadi corong dan juru bicara, NU ada, tarekat ada, badan otonom bersama masyarakat. Ini yang harus kita gelorakan kembali.
Ini kan upaya pengenalan terhadap Resolusi Jihad terhadap warga bangsa, bagaimana langkah selanjutnya?
Tentu seluruh elemen harus segera mendorong agar Resolusi Jihad masuk dalam sejarah bangsa, masuk dalam teks buku kita, peringatan hari pahlawan harus dipusatkan di Surabaya, bukan di Kalibata Jakarta. Tentu kita harapkan apapun semangat Resolusi Jihad, tetap diatas kita adalah merah putih, kita tidak ingin mengatakan merah putih dibawah kita, tetapi merah putih yang harus kita junjung
Seremonial apa yang akan kita lakukan di berbagai lokasi yang dilalui?
Macam-macam, kita hargai potensi masyarakat, karena antara Gresik dan Pekalongan berbeda, dengan Kerawang berbeda, karena itu potensi lokal harus kita munculkan. Sambutlah dengan kreasi lokal yang ada, keanekareagaman dan kesenian, silahkan dimaknai disitu. Kita ingin memaknai, jihad itu bukan seperti yang terjadi kemarin (pengeboman.red), tetapi kebersamaan untuk mencintai perbedaan yang ada. Disitu Islam rahmatan lil alamiin
Contohnya apa?
Banyak, kalau di Gresik akan disambut hadrah Ishari, Paskibraka, atraksi Pagar Nusa, macam-macam lah. Ada reog juga, ada kesenian. Di Semarang kalau tak salah, ada istighotsah malamnya. Karena itu, di lima titik akan kita siarkan secara langsung. Termasuk di masing-masing persinggahan akan ada aksi sosial, santunan untuk fakir miskin, anak yatim, janda, termasuk janda pahlawan akan kita berikan sehingga ini bukan semata-mata kirab bendera, tetapi penyapaan dan berbagai pada masyarakat yang kita lalui.
Bagaimana dengan keterlibatan komponen PKB dalam hal ini?
Setiap aktifitas kan ada berkah, nanti berkahnya semoga bisa kita rasakan, tapi yang lebih penting, meneruskan harapan dari Habib Lutfy, harapan dari KH Said Aqil Siroj selaku ketua umum PBNU, yang mana, baru sejarah pertama, kirab ini dilaksanakan. Kita tidak memaknai kirab ini sebagai gerakan politik, tetapi itu wajar kalau ada orang yang iri, tetapi kita biarkan, yang penting ketulusan mengibarkan panji NU, badan otonom dan merah putih.
Tasawwuf, Sebuah Pendekatan Alternatif Atasi Problem Sosial
Sayangnya, peranan Resolusi Jihad tersebut kurang mendapat apresiasi, bahkan cenderung dilupakan oleh pemerintah dan publik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengingatkan kembali makna Resolusi Jihad adalah dengan menggelar Kirab Resolusi Jihad dari Surabaya ke Jakarta pada 20-25 November 2011. Acara ini melibatkan Keluarga Besar NU, yang meliputi berbagai badan otonom NU, dan kelompok kultural NU.
Apa latar belakang dan target yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan acara, yang baru pertama kali ini dilakukan, berikut wawancara Mukafi Niam dengan Imam Nahrawi, ketua pelaksana nasional Kirab Resolusi Jihad, seusai softlaunching, pada Kamis 10 November di gedung PBNU.
Latar belakang penyelenggaraan Kirab Resolusi Jihad
Beberapa waktu lalu Pak Muhaimin Iskandar ketemu dengan Habib Lutfi bin Yahya. Dalam kesempatan tersebut, Habib Lutfy menyampaikan keprihatinan semakin dilupakannya merah putih dan peran besar NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya beliau minta tolong lakukan semacam kirab, untuk mengembalikan semangat ke-NU-an, dari Surabaya ke Jakarta.
Kebetulan Surabaya adalah tempat terjadinya pertempuran 10 November yang menjadi hari Pahlawan. Surabaya tempat dibacakannya Resolusi Jihad dan diikrarkan sedemikian rupa oleh para ulama yang mendorong semangat pejuang untuk melawan penjajah.
Kedua, kita ingin ke-NU-an tidak hanya dimiliki oleh warga NU, tetapi juga oleh warga bangsa karena peran sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari dorongan dan dukungan dari semangat para kiai NU. Ini didirikan oleh NU. Ini harus dibuka, meskipun dalam mata pelajaran kita tidak pernah disebut Resolusi Jihad, tetapi harus dan wajib disebutkan peranan NU luar biasa besar, meskipun bangsa ini, pemerintah tidak pernah menuliskan itu dalam rangkaian sejarah, tetapi semangat warga NU tidak pernah pudar, tak pernah kecewa dan membangkang perintah yang sah.
Acara ini akan kita live dalam beberapa media secara nasional dan akan kita beritahu bahwa NU adalah penopang utama dari kokohnya NKRI.
Kok bentuknya kirab, kenapa?
Ibarat orang ingin taaruf, maka dia harus silaturrahmi, keliling, maka dengan motivasi ini, kita harap satu per satu warga bangsa yang dilalui, menjadi corong dan juru bicara, NU ada, tarekat ada, badan otonom bersama masyarakat. Ini yang harus kita gelorakan kembali.
Ini kan upaya pengenalan terhadap Resolusi Jihad terhadap warga bangsa, bagaimana langkah selanjutnya?
Tentu seluruh elemen harus segera mendorong agar Resolusi Jihad masuk dalam sejarah bangsa, masuk dalam teks buku kita, peringatan hari pahlawan harus dipusatkan di Surabaya, bukan di Kalibata Jakarta. Tentu kita harapkan apapun semangat Resolusi Jihad, tetap diatas kita adalah merah putih, kita tidak ingin mengatakan merah putih dibawah kita, tetapi merah putih yang harus kita junjung
Seremonial apa yang akan kita lakukan di berbagai lokasi yang dilalui?
Macam-macam, kita hargai potensi masyarakat, karena antara Gresik dan Pekalongan berbeda, dengan Kerawang berbeda, karena itu potensi lokal harus kita munculkan. Sambutlah dengan kreasi lokal yang ada, keanekareagaman dan kesenian, silahkan dimaknai disitu. Kita ingin memaknai, jihad itu bukan seperti yang terjadi kemarin (pengeboman.red), tetapi kebersamaan untuk mencintai perbedaan yang ada. Disitu Islam rahmatan lil alamiin
Contohnya apa?
Banyak, kalau di Gresik akan disambut hadrah Ishari, Paskibraka, atraksi Pagar Nusa, macam-macam lah. Ada reog juga, ada kesenian. Di Semarang kalau tak salah, ada istighotsah malamnya. Karena itu, di lima titik akan kita siarkan secara langsung. Termasuk di masing-masing persinggahan akan ada aksi sosial, santunan untuk fakir miskin, anak yatim, janda, termasuk janda pahlawan akan kita berikan sehingga ini bukan semata-mata kirab bendera, tetapi penyapaan dan berbagai pada masyarakat yang kita lalui.
Bagaimana dengan keterlibatan komponen PKB dalam hal ini?
Setiap aktifitas kan ada berkah, nanti berkahnya semoga bisa kita rasakan, tapi yang lebih penting, meneruskan harapan dari Habib Lutfy, harapan dari KH Said Aqil Siroj selaku ketua umum PBNU, yang mana, baru sejarah pertama, kirab ini dilaksanakan. Kita tidak memaknai kirab ini sebagai gerakan politik, tetapi itu wajar kalau ada orang yang iri, tetapi kita biarkan, yang penting ketulusan mengibarkan panji NU, badan otonom dan merah putih.
Kami juga meminta doa restu dan berharap seluruh warga NU untuk berbondong-bondong menghadiri acara ini ditempat kirab dilalui untuk mengenang sejarah kepahlawanan para ulama NU dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tasawwuf, Sebuah Pendekatan Alternatif Atasi Problem Sosial
Indonesia telah merdeka selama 61 tahun, namun sejauh ini upaya pembangunan masih carut-marut. Berbagai model untuk memberdayakan anak bangsa telah dicoba oleh para pemimpin, namun semuanya gagal dan krisis silih berganti datang. Bukannya lebih baik, kehidupan rakyat semakin buruk, kekayaan alam terus terkuras yang akhirnya menimbulkan berbagai bencana alam.
Hidup harus terus dijalani dan nasib rakyat harus terus diperjuangkan dengan berbagai pendekatan baru yang lebih cocok. Berikut ini pemikiran Dr. KH Said Aqil Siroj yang menawarkan pendekatan tasawwuf dalam mengatasi problematika bangsa yang diungkapkannya dalam wawancara dengan Mukafi Niam dari NU Online beberapa hari lalu disela-sela kesibukannya dalam mempersiapkan launching bukunya Tasawwuf sebagai Kritik Sosial di Gd. PBNU Lt 5.
Apa yang dimaksud dengan tasawwuf sebagai kritik sosial?
Latar belakangnya begini, saya ingin ikut andil mencari solusi krisis yang sampai sekarang masih kita rasakan, di bidang ekonomi, hukum, politik, moneter, itu semua bisa diatasi. Kalau sudah kena krisis sosial, kita bangkrut, negara juga bangkut, ini susah. Yang bisa memperbaiki diri kita sendiri, kalau krisis ekonomi, investor datang, selesai. Tapi kalau sudah krisis budaya, krisis moral, kita sendiri yang harus melakukan recovery, tidak bisa imam masjidil haram atau syaikhul azhar misalnya. Mari kita coba dengan pendekatan tasawuf. Apa tawassuf itu, pada dasarnya, kita selalu hadir bersama tuhan atau minimal kita sadar bahwa tuhan selalu hadir bersama kita.
Dalam hal ini, kita mengenal khouf, dau roja’, takut kepada murka tuhan dan mengharap rahmatnya. Yang baik bagaimana, kita harus ngambil tengah-tengah, antara takut dan optimis. Takut sekali sama tuhan nanti seolah-olah tuhan tidak mampu memaafkan makhluknya, sangat optimis berlebihan juga seolah-olah meremehkan aturan tuhan. Jadi ditengah-tengah. Kalau sudah itu, baru kita membaca problem masyarakat. Bangunan sosial yang dibangun para ulama dahulu saling gotong royong, yang muda percaya yang tua, yang tua percaya yang muda, yang miskin percaya pada yang kaya, yang kaya santun pada yang miskin, yang pandai mengayomi yang bodo, yang bodo percaya pada yang pinter, sekarang kan bubar itu, lepas semua. Yang bodo curiga sama yang pinter, takut dipinterin, yang miskin melihat yang kaya pasti curiga dari mana kayanya. Kalau dulu enggak, yang muda percaya sama yang tua karena memang bisa dijadikan contoh. Pendekatan tasawwuf ini ingin mengembalikan beberapa hal itu.
Gampangannya gimana, kepercayaan ini pasti tumbuh dari hati sendiri, bukan dari luar. Islam sebagai inspirasi, bukan Islam aspirasi, bukan Islam doktriner, Islam yang tumbuh dari dirinya sendiri. Tasawwuf itu bukan menyebabkan kemunduran umat Islam, kebodohan. Tasawwuf adalah revolusi ummat Islam yang dinamis, yang produktif, yang aktif, selalu mengejar makom yang lebih tinggi.
Banyak sufi yang bisa kita jadikan contoh seperti Umar bin Abdul Aziz yang menjadi raja dan berkuasa tahun 99-102 H, ada Jabir bin Hayyan penemu teori Aljabar, ada pedagang sukses, Jabir bin Attar yang memiliki pabrik parfum, ada lagi petani sukses, Abi Hasan As-Syadzili, bahkan pengikutnya 600 dijamin semua kebutuhannya. Nah itu yang kita idolakan, sufi yang bermasyarakat, sufi yang peduli sesama, sufi yang aktif, bukan sufi yang mojok di masjid itu.
Sufi selalu diidentikkan dengan orang yang selalu uzlah, melepaskan diri dari problematika masyarakat?
Itu salah, sebenarnya adalah uzlah spiritual, bukan berarti melepaskan diri dari kehidupan masyarakat, tetap hidup di tengah-tengah hiruk-pikuknya Jakarta tapi hati tidak larut, uzlah dari maksiat, uzlah dari hubbuddunya, uslah dari ambisi-ambisi, bukan uzlah fisik. Hidup di tengah-tengah justru bisa mempengaruhi masyarakat.
Teori yang mengatakan kita terpengaruh oleh lingkungan bisa benar bisa tidak, Nabi Muhammad satu orang bisa merubah seluruh ummat manusia. Para walisongo bisa merubah masyarakat Jawa. banyak sekali pesantren yang dibangun di tengah-tengah masyarakat abangan justru disitu malah berkembang. KH Hasyim Asyari di Tebu Ireng, Kiai Abbas di Butet, ini lingkungannya abangan, tapi justru beliau ingin merubah lingkungannya, bukan terpengaruh oleh lingkungan. Ini uzlah, ini yang kedua.
Ketiga, dalam buku itu saya tegaskan, Allah berfirman dalam surat Al Hajj ayat 54 kalau ingin mencapai kebenaran, disini Islam mendorong kita agar berilmu. Kita rebutscience dan teknologi, harus kita kuasai. Tapi ilmu tidak bermanfaat, bahkan menjadi malapetaka jika tidak didasari dengan iman. Ilmu dan Iman masih belum bermanfaat jika tidak didasari dengan hati yang tulus. Wal ya
Arcive:gp ansor jatirokeh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar